• Follow Us On : 
Harga Kol Rp 500/Kg,  Petani di Karo Ada yang Tidak Panen dan Biarkan Busuk di Ladang Seorang petani sayur kol di Berastagi yang membiarkan tanamannya membusuk di ladang, Selasa (30/3/2021). Foto: S.Surbakti

Bumi Turang

Harga Kol Rp 500/Kg, Petani di Karo Ada yang Tidak Panen dan Biarkan Busuk di Ladang

Selasa, 30 Maret 2021 - 19:23:49 WIB
Dibaca: 427 kali 
Loading...

Petunjuk7. com - Akibat harga sayur kol turun drastis di kisaran Rp 500 per kilo gram (kg), beberapa petani di Kecamatan Berastagi, Kecamatan Merdeka, Kecamatan Kecamatan Simpang Empat, Merek dan Tigapanah, Kabupaten Karo, Propinsi Sumatra Utara membiarkan sayur kol tersebut membusuk di ladang mereka.

Demikian diungkapkan oleh seorang petani sayur kol bernama Suhendrik  Ginting (30) kepada wartawan , Selasa 30/03/2021 siang.

"Mau dipanen harganya sangat murah, untuk ongkos panen saja tidak nutup,” ungkap Hendrik yang mengeluhkan soal harga kol tersebut.

Hendrik menyebutkan, kali ini mengalami gagal panen. Dua bulan yang lewat harga kubis mencapai Rp 4.000 per kilo gram, tapi saat ini harga di tingkat petani hanya Rp 500 per kilo di lahan pertanian.

Harga Rp 4.000 itu hanya bertahan beberapa bulan saja. Setelah itu? terus menurun hingga Rp 500 per kilogram. Itupun tergantung dari kualitasnya,” sebut Hendrik

Sebab, lanjut Hendrik, untuk biaya perawatan hingga masa panen membutuhkan biaya sebanyak Rp10 juta. 

Dengan harga kubis Rp 500 sudah dipastikan akan mengalami kerugian yang cukup besar.

"Padahal kubis sudah saya semprot secara intensif agar tidak mudah busuk dan ulatnya pun tidak ada . Kubis  milik saya tetap busuk, sekarang hanya bisa digunakan sebagai tambahan pupuk,” ungkap Hendrik .

Hal senada juga diungkapkan oleh Ruben Karo - karo seorang petani kubis di Kecamatan Tigapanah . 

Ia mengatakan harga kubis selama tiga bulan ini turun menjadi Rp. 800  sampai 500 per kg.

"Kami tak bisa berbuat apa - apa melihat harga kubis turun. 2 bulan yang lewat harga kubis masih Rp. 4000 per kg,” kata Ruben.

Ruben menyebutkan, bahwa upah memotong sayur kubis dan upah angkutannya lumayan besar.

”Kalau di lahan pertanian harga kubis mencapai 500 per kg,” kata Ruben petani yang memiliki lahan kubis seluas 1 hektar ini.

"Kalau dalam kondisi normal, harga kubis Rp 1800 - Rp 2.500 per kilogram. Namun, saat ini harga kubis terjun bebas, menjadi Rp 800 hingga 500 per kilogram. Kalau harganya demikian, bagaimana kami bisa mengeruk keuntungan,” sebut Ruben.

Ruben menjelaskan, jika harga masih Rp 1800 hingga Rp 2.500 per kilogram, petani masih bisa mendapatkan penghasilan. 

“Kalau harga kubis menjadi Rp 500 per kilogram, dalam 1 hektar lahan kubis hanya mampu mendapatkan Rp 2 hingga 3 juta. Bahkan, ada yang malah rugi,” ujarnya.

"Dalam 1 hektar lahan, biaya yang harus dikeluarkan oleh petani kubis Rp 10 juta hingga Rp 15 juta. Biaya tersebut dikeluarkan untuk membeli bibit kubis. Selain itu, juga ada biaya perawatan dan upah para buruh tani," beber Ruben.

Terkait harga sayur, seorang pedagang sayur, Juli Sembiring, kepada wartawan, mengungkapkan, bahwa anjloknya harga sayuran disebabkan karena banyaknya stok dari petani. 

Hal itu dirasakan mulai pertengahan musim penghujan tahun ini, dan masih terus berlanjut sampai sekarang.

“Kalau musim hujan seperti ini stok sayuran dari petani sangat banyak, sehingga harganya turun. Sebenarnya juga kasihan pada petani, mereka pasti mengalami kerugian. Tapi kami juga tidak bisa berbuat banyak,” kata Juli. ( S. Surbakti )



Loading...

Akses petunjuk7.com Via Mobile m.petunjuk7.com
TULIS KOMENTAR
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Loading...
KABAR POPULER